Thoriqi Firdaus, S.Pd., M.Pd
Pengembang Platform & Instruktur Utama

Thoriqi Firdaus, S.Pd., M.Pd.

Dosen Universitas Pelita Bangsa

💻 Digital Pedagogy 🤖 AI in Science Education 🌱 STEM-Green Integration 🌍 Socio-scientific Issues
σ²
CV
Z
Laboratorium Statitika

Statistika Deskriptif 4
Variansi Kelompok & Z-Score

Pahami penyebaran data dan perbandingan nilai secara relatif melalui visualisasi dinamis dan simulasi perhitungan interaktif.

Mulai Eksplorasi 🚀

Konsep Dasar: Apa yang sedang dianalisis?

Seorang dosen ingin mengevaluasi nilai kelas. Pertanyaan kuncinya: Apakah dosen menganalisis seluruh mahasiswa (Populasi) atau hanya mengambil sebagian mahasiswa (Sampel)?

Populasi 🌍

Seluruh subjek penelitian (Misal: 50 Mahasiswa)

Sampel 🎯

Sebagian yang diteliti (Misal: 10 Mahasiswa)

Belum ada sampel ditarik
💡 Kenapa ini penting? Populasi dan sampel menentukan cakupan data dan pemilihan rumus (pembagi n atau n-1). Variansi dan Z-Score nantinya digunakan untuk melihat penyebaran dari data kelompok tersebut.
⚠️ Awas Terkecoh! Data 1 kelas tidak otomatis Populasi.
• Jika target penelitian hanya kelas itu = Populasi.
• Jika targetnya satu kampus, kelas itu = Sampel.

Variansi Kelompok: Rata-rata Saja Tidak Cukup!

Variansi digunakan untuk mengetahui seberapa besar penyebaran nilai terhadap rata-ratanya. Dua kelas dengan rata-rata yang sama persis bisa memiliki karakteristik keragaman (sebaran) yang jauh berbeda.

Mhs Kelas A Kelas B
17060
27570
38080
48590
590100
Rata² 80 80
5060708090100110
Kls A
Var = 50
Kls B
Var = 200

⚠️ Catatan Penting: Variansi Kelas B (200) empat kali lebih besar dari Kelas A (50). Ini menunjukkan nilai Kelas B menyebar lebih ekstrem (ada yang sangat rendah dan sangat tinggi). Hasil ini murni menggambarkan "sebaran nilai", bukan otomatis menunjukkan efektivitas dosen atau kualitas kelas tersebut!

💡

Pengertian Variansi Kelompok

Variansi kelompok adalah ukuran statistik yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar penyebaran (keragaman) nilai dalam suatu kelompok terhadap rata-ratanya. Semakin besar nilai variansi, semakin jauh titik-titik data tersebar dari pusatnya.

"Jika kita ingin mengetahui seberapa jauh nilai mahasiswa berbeda dari rata-rata, apa yang secara logika harus kita lakukan?"
1

Tentu saja, kita harus cari rata-rata (mean) kelompok tersebut terlebih dahulu.

2

Kemudian, hitung selisih (jarak) setiap nilai mahasiswa terhadap rata-rata tersebut.

3

Lalu, kuadratkan setiap selisih. Mengapa? Agar penyimpangan negatif (di bawah rata-rata) dan positif (di atas rata-rata) tidak saling menghilangkan menjadi nol saat dijumlahkan.

4

Terakhir, hitung rata-rata dari kuadrat penyimpangan tersebut (bagi dengan jumlah data).

Rumus Variansi Populasi

Membagi dengan seluruh jumlah sasaran

σ2 =
Σ (xi - μ)2
N

Rumus Variansi Sampel

Membagi dengan n-1 untuk estimasi tidak bias

s2 =
Σ (xi - x̄)2
n - 1

⚠️ Mengapa Sampel dibagi (n - 1)?

Pembagi n - 1 digunakan pada estimasi variansi populasi dari sebuah sampel agar hasilnya tidak bias (unbiased estimator). Ini bukan berarti semua perhitungan sampel asal beda rumus, melainkan kompensasi karena rata-rata sampel (x̄) yang kita gunakan cenderung meremehkan (underestimate) variasi populasi yang sebenarnya.

🔬 Variance Lab: Populasi (σ²)

Ubah nilai di tabel, lalu lihat bagaimana titik, garis selisih, dan rumus beraksi!

📘 Data Kelas A
📗 Data Kelas B
Var A: 50.00

Var B: 200.00
020406080100

📖 Bedah Rumus: Dari Tabel ke Matematika

  • 1. Mencari Rata-rata (μ): Jumlahkan semua nilai (x), lalu bagi dengan banyak data (N = 5).
  • 2. Selisih (xi - μ): Kolom kedua tabel. Kurangi nilai tiap mahasiswa (x) dengan rata-rata.
  • 3. Kuadrat Selisih (xi - μ)²: Kolom ketiga. Kalikan selisih dengan dirinya sendiri (menghilangkan minus).
  • 4. Notasi Sigma (Σ): Baris kuning terbawah. Artinya "Jumlahkan semua nilai dari kolom kuadrat di atasnya".
  • 5. Hasil Akhir (σ²): Bagikan total Sigma (Σ) dengan pembagi N (5).

Perhitungan Kelas A

Nilai (x) x - μ (x - μ)²
Jumlah Sigma (Σ) 250
σ² = 250 / 5 = 50.00

Menafsirkan Variansi

Angka sudah didapat, lalu apa artinya? Gunakan 3 pertanyaan ini untuk menganalisis data.

1. Apakah nilai dalam kelompok cenderung berdekatan atau berjauhan dari rata-rata? ➕
Cara menafsirkannya: Jika variansi bernilai kecil (mendekati nol), artinya nilai-nilai mahasiswa sangat berdekatan dan menumpuk di sekitar rata-rata. Jika variansi besar, artinya sebaran nilainya sangat lebar, membentang jauh ke atas maupun ke bawah dari rata-rata.
2. Kelompok mana yang memiliki variansi lebih besar? ➕
Cara menafsirkannya: Saat membandingkan dua kelas dengan rata-rata yang sama, kelompok dengan variansi lebih besar adalah kelompok yang lebih heterogen (sangat beragam). Kelompok dengan variansi lebih kecil adalah kelompok yang lebih homogen (seragam).
3. Apa arti perbedaan penyebaran tersebut dalam hasil belajar? ➕
Dalam konteks kelas: Variansi yang kecil menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa di kelas tersebut merata (pembelajaran diserap dengan cara yang hampir sama oleh semua orang). Variansi yang besar menunjukkan adanya kesenjangan (ada yang kemampuannya sangat tinggi, tapi ada juga yang sangat tertinggal di kelas yang sama).

⚠️ Hati-hati Miskonsepsi!

Variansi yang lebih besar berarti penyebaran data lebih besar, BUKAN otomatis prestasi kelas tersebut lebih buruk. Variansi tidak mengukur kualitas dosen atau pintar/tidaknya kelas, melainkan hanya mengukur "keragaman" kemampuan di dalamnya.

💡 Masalah Satuan & Simpangan Baku

Ingat saat kita menguadratkan selisih? Akibatnya, satuan variansi ikut terkuadratkan (Misal: dari satuan "Poin" menjadi "Poin Kuadrat"). Agar kembali ke satuan asli, kita gunakan Simpangan Baku (Akar Kuadrat Variansi).

Data Asli
Poin Nilai
➔
Variansi (σ²)
Poin² (Aneh)
➔
Simpangan Baku (σ)
Poin Nilai (Asli)

Inti Yang Harus Diingat

Variansi digunakan murni untuk memahami keragaman data dalam suatu kelompok. Variansi menjawab "seberapa menyebar datanya?", bukan "seberapa tinggi nilai rata-ratanya?".

Koefisien Variansi (KV)

Untuk apa Koefisien Variansi digunakan?

💡 Digunakan untuk membandingkan besar penyebaran relatif terhadap rata-rata, terutama ketika dua kelompok memiliki skala atau rata-rata yang jauh berbeda.
🔍 Tantangan: Kelas mana yang penyebarannya LEBIH BESAR?

Kelas A

Rata-rata (μ): 50
Simpangan Baku (σ): 5
Visualisasi Simpangan terhadap Skala Absolut:
5

Kelas B

Rata-rata (μ): 100
Simpangan Baku (σ): 8
Visualisasi Simpangan terhadap Skala Absolut:
8
⚠️ Terkecoh Ilusi Angka!
Jika hanya melihat simpangan baku secara absolut, Kelas B (8) memang tampak lebih menyebar daripada Kelas A (5).

Namun, penyimpangan 5 poin pada rata-rata 50 artinya datanya menyebar sebesar 10%. Sedangkan penyimpangan 8 poin pada rata-rata 100 artinya datanya hanya menyebar 8%. Secara relatif, Kelas A lebih menyebar! Di sinilah kita butuh membandingkan penyebaran dengan rata-ratanya masing-masing.

📏 Variansi / Simpangan Baku

  • Fungsi Inti: Mengukur seberapa besar penyebaran data secara absolut.
  • Fokus: Melihat jarak murni titik data terhadap rata-rata.
  • Satuan: Memiliki satuan yang sama dengan data aslinya (misal: Poin, Kg, Meter).

⚖️ Koefisien Variansi (KV)

  • Fungsi Inti: Membandingkan penyebaran secara relatif terhadap rata-ratanya.
  • Fokus: Digunakan untuk membandingkan 2 kelompok yang skalanya sangat berbeda.
  • Satuan: Tidak memiliki satuan asli, selalu dinyatakan dalam Persentase (%).
💸

Cara Mudah Memahaminya (Analogi Pengeluaran)

Bayangkan dua orang memiliki pengeluaran bulanan yang jauh berbeda. Keduanya mengalami pembengkakan pengeluaran mendadak sebesar Rp 500.000.

Bagi orang dengan pengeluaran rendah (misal Rp 1.500.000/bulan), uang Rp 500.000 itu terasa sangat besar secara relatif. Tetapi bagi orang dengan pengeluaran tinggi (misal Rp 20.000.000/bulan), uang Rp 500.000 itu relatif sangat kecil. KV bekerja dengan gagasan serupa: menilai simpangan baku dengan membandingkannya terhadap "kemampuan/rata-rata" kelompoknya.

Pembuktian: Mengapa Kita Butuh KV?

Ukuran Kelas A Kelas B
Rata-rata (μ) 50 100
Simp. Baku (σ) 5 8
KV (Relatif) 10% 8%

Langkah Perhitungannya:

KV A = (5 ÷ 50) × 100% = 10%
KV B = (8 ÷ 100) × 100% = 8%

Maknanya: Simpangan baku Kelas B lebih besar secara absolut (8 > 5), tetapi secara proporsi (relatif) penyebarannya justru lebih kecil (8% < 10%).

Rumus Resmi

Data Sampel

KV =
s
x̄
× 100%

Data Populasi

KV =
σ
μ
× 100%

📌 Pesan Kunci yang Harus Diingat Mahasiswa:

  • Simpangan baku mengukur seberapa besar penyebaran absolut dalam satuan data asli.
  • Koefisien variansi mengukur seberapa besar penyebaran relatif terhadap rata-ratanya (dalam persen).
  • KV yang lebih kecil menunjukkan penyebaran relatif yang lebih kecil (lebih konsisten/seragam), tetapi TIDAK BERARTI kelompok tersebut selalu lebih pintar atau lebih unggul.

🔬 CV Lab: Siapa yang Lebih Konsisten?

Pilih skenario atau geser slider. Tebak kelompok mana yang penyebaran relatifnya lebih besar sebelum melihat hasil KV!

Kelompok A

050100150200
KV = 20.0%

Kelompok B

050100150200
KV = 40.0%

🤔 Menurutmu, kelompok mana yang memiliki penyebaran relatif lebih besar?

Jelaskan alasanmu secara singkat dalam satu kalimat (berdasarkan rumus/grafik):

✅ Kapan KV Cocok Digunakan?

  • Saat membandingkan kelompok dengan rata-rata yang jauh berbeda.
  • Membandingkan kestabilan hasil pengukuran dari dua alat ukur.
  • Mengevaluasi variasi produksi dua mesin dengan target (rata-rata) yang berbeda.
  • Cocok untuk data dengan skala rasio (angka 0 mutlak dan bermakna).

⚠️ Kapan Harus Berhati-hati?

  • Jika rata-rata (μ) bernilai nol atau mendekati nol, KV bisa menjadi tak terhingga dan tidak bermakna.
  • Data berupa suhu (Celsius/Fahrenheit) tidak cocok dihitung KV-nya karena 0° bukan nol mutlak (skala interval).
  • Jangan membuat aturan buta seperti "KV < 10% pasti homogen" tanpa menyesuaikan konteks bidang ilmunya.
📌 Inti yang harus diingat: Variansi melihat penyebaran suatu kelompok secara absolut, sedangkan Koefisien Variansi (KV) membantu membandingkan penyebaran relatif antarkelompok.

Z-Score: Posisi Relatif Nilai

Z-score digunakan untuk mengetahui posisi satu nilai terhadap rata-rata kelompoknya, dengan mengukur jaraknya dalam satuan simpangan baku.

👥

Variansi & KV

Berfokus pada penyebaran data secara keseluruhan di dalam suatu kelompok.

👤

Z-Score

Berfokus pada posisi tunggal satu nilai tertentu (individu) di dalam konteks kelompok tersebut.

Bayangkan seorang mahasiswa mendapat nilai 85.
Apakah nilai ini tergolong tinggi?

Jawabannya: Tergantung konteks kelompoknya! Pilih rata-rata kelas di bawah ini:

5060708090100
Nilai Mahasiswa (85)
μ = 60
🚀 Nilai 85 berada jauh di atas rata-rata. Ini adalah prestasi yang sangat tinggi!
🎯

Angka 85 saja tidak bermakna tanpa konteks. Z-score membantu kita menempatkan nilai tersebut ke dalam konteks kelompoknya. Dengan Z-Score, kita mengubah nilai mentah menjadi ukuran standar (seberapa jauh dari rata-rata).

1. Contoh Konkret: Angka Sama, Makna Berbeda

Misalkan ada dua mahasiswa dari kelas berbeda, KEDUANYA mendapat nilai ujian 85. Apakah mereka sama pintarnya? Mari kita hitung Z-Score-nya.

Mahasiswa Kelas A
Rata-rata Kelas (μ) 70
Simpangan Baku (σ) 10
Nilainya (x) 85
z =
85 - 70
10
= 1,5
Mahasiswa Kelas B
Rata-rata Kelas (μ) 80
Simpangan Baku (σ) 5
Nilainya (x) 85
z =
85 - 80
5
= 1,0

💡 Terjemahan Bahasa Manusia (Apa arti 1,5 dan 1,0?)

Jangan bayangkan rumus, bayangkan "Penggaris Kelas". Simpangan baku ($\sigma$) adalah panjang penggaris pengukur jarak di kelas tersebut.

  • Mahasiswa A (z = 1,5): Dia mendapat nilai 15 poin di atas rata-rata (85-70). Karena penggaris di kelasnya panjangnya 10, berarti dia berhasil melompat sejauh 1,5 buah penggaris mengungguli teman-temannya.
  • Mahasiswa B (z = 1,0): Dia mendapat nilai 5 poin di atas rata-rata (85-80). Karena penggaris kelasnya panjangnya 5, berarti dia hanya melompat sejauh 1 buah penggaris mengungguli teman-temannya.

Kesimpulan: Mahasiswa A jauh lebih "outstanding" (menonjol) di kelasnya dibandingkan Mahasiswa B di kelasnya, meskipun nilai ujian mereka berdua sama-sama 85.

2. Rumus Z-Score

Parameter Populasi

x - μ
σ

Parameter Sampel

x - x̄
s

Kamus Simbol Sederhana

x
Nilai target yang ingin kita selidiki posisinya.
μ/x̄
Rata-rata kelompok (Titik Start / Titik Nol).
σ/s
Simpangan baku (Panjang "penggaris" pengukur jarak).
z
Skor Akhir (Berapa banyak penggaris jaraknya dari titik start).

3. Cara Membaca Z-Score (Paling Penting!)

Membaca Z-Score selalu dilakukan dengan dua langkah. Pisahkan antara Tanda (+ / -) dan Angkanya.

1
Lihat Tandanya (+ atau -)

  • Jika tandanya Positif (+): Berarti nilai tersebut berada DI ATAS rata-rata kelas.
  • Jika tandanya Negatif (-): Berarti nilai tersebut berada DI BAWAH rata-rata kelas.
  • Jika hasilnya Nol (0): Berarti nilainya SAMA PERSIS dengan rata-rata.

2
Lihat Angkanya (Besarannya)

Abaikan tanda minusnya, fokus pada besaran angkanya (nilai absolut). Semakin besar angkanya, semakin ekstrem letak nilai tersebut.

  • Angka 1 = Jauh dari rata-rata
  • Angka 2 = Sangat jauh (jarang terjadi)
  • Angka 3 = Ekstrem / Outlier (sangat langka)
Peta Visual Z-Score
-2
Sangat
Rendah

(Jauh di bawah normal)
-1
Rendah
(Di bawah rata-rata)
0
TITIK RATA-RATA KELAS
+1
Tinggi
(Di atas rata-rata)
+2
Sangat
Tinggi

(Prestasi luar biasa)
⚠️ Catatan Kurva Normal: Z-Score hanya menunjukkan jarak posisi. Z-score tidak otomatis berarti persentase ranking tertentu (seperti juara 1 atau masuk top 5%). Untuk menerjemahkan Z-score menjadi probabilitas atau ranking persentil, kita harus menggunakan Tabel Distribusi Normal (Kurva Lonceng Z).

Untuk Apa Z-Score Digunakan dalam Praktik?

Klik tab di bawah untuk melihat 3 penerapan utamanya di dunia nyata.

Membandingkan Posisi Relatif Mahasiswa

Dua mahasiswa dari kelas yang berbeda mungkin memperoleh nilai ujian yang persis sama (misal: 85). Namun, makna nilai tersebut bisa jauh berbeda.

Karena rata-rata dan simpangan baku kelas mereka berbeda, Z-score membantu kita melihat siapa yang secara relatif lebih unggul di habitatnya masing-masing.

Intinya: Z-Score menghilangkan bias tingkat kesulitan soal antar kelas, sehingga perbandingan kemampuan menjadi lebih adil.
🏃‍♂️💨

Balapan di Lintasan Berbeda

Nilai absolut (85) ibarat kecepatan lari. Z-Score ibarat mengukur seberapa jauh pelari meninggalkan teman-temannya di belakang, terlepas dari apakah mereka lari di aspal atau di lumpur.

Mengidentifikasi Nilai yang Tidak Biasa (Outlier)

Nilai dengan Z-score yang jauh dari nol (biasanya di atas +2 atau di bawah -2) adalah nilai yang ekstrem atau jarang terjadi.

Misalnya, mahasiswa dengan z = -2,5 berarti posisinya 2,5 simpangan baku di bawah rata-rata. Ini adalah "bendera merah" (red flag) bahwa ada anomali pada data tersebut.

⚠️ Peringatan Kritis: Angka ekstrem ini adalah petunjuk untuk meninjau ulang data. Ini bukan otomatis bukti bahwa mahasiswanya bermasalah atau datanya salah input. Selalu selidiki penyebabnya!

Radar Anomali Z-Score

z = -2,5
μ (z = 0)

Sistem akan otomatis memberikan "Alert" pada nilai-nilai yang berada di zona ekstrem ini untuk diinvestigasi.

Menstandarkan Nilai untuk Perbandingan Lintas Skala

Z-score membantu membandingkan pencapaian seseorang pada dua bidang yang skalanya berbeda.

Contoh: Budi mendapat 85 di Matematika dan 78 di Statistika. Jika hanya melihat nilai mentah, seolah Matematikanya lebih bagus.

Namun, jika ujian Statistika itu sangat sulit (rata-rata kelas anjlok), nilai 78 tersebut mungkin menghasilkan Z-Score yang lebih tinggi daripada Matematika. Z-score membuat apel dan jeruk bisa dibandingkan secara adil.

Ilusi Nilai Mentah Budi

📐 Matematika
85
📊 Statistika
78
Analisis: Nilai 85 belum tentu posisi relatifnya lebih tinggi dari 78. Kita butuh Rata-rata dan Simpangan Baku masing-masing ujian untuk membuktikannya via Z-Score!

Z-Score Explorer: Di Mana Posisi Nilaimu?

Geser slider untuk melihat bagaimana Z-score bergerak melintasi kurva distribusi normal.

Nilai Individu (x) 75
Rata-rata Kelompok (μ) 75
Simpangan Baku (σ) 10
z = (75 - 75) / 10
0.00
Nilai berada tepat pada rata-rata kelas.
-3
-2
-1
0
+1
+2
+3
Posisi Nilaimu

🤔 Pertanyaan Refleksi

"Mengapa nilai individu yang sama (misal sama-sama mendapat 85) bisa menghasilkan Z-score yang berbeda-beda jika berada di kelompok yang berbeda?"

✅ Kunci Jawaban:
Karena Z-score tidak hanya mengukur nilai mentah, tetapi sangat bergantung pada Rata-rata kelompok (μ) dan Simpangan baku (σ). Nilai 85 bisa menjadi Z-score positif yang besar jika rata-rata kelompok rendah, atau menjadi Z-score negatif jika rata-rata kelompok sangat tinggi. Z-Score mengukur "posisi relatif" di dalam kelompoknya.
📌 Inti yang harus diingat: Z-score membantu menjelaskan posisi satu nilai secara spesifik dibandingkan dengan rata-rata kelompoknya, bukan untuk mengukur penyebaran seluruh kelompok secara utuh.

Studi Kasus Akhir: Menyatukan Kepingan Puzzle

Seorang dosen ingin mengevaluasi hasil ujian mahasiswa dari dua kelas. Selesaikan ketiga misi di bawah ini untuk membantunya!

📊 Papan Data Utama

Kelas A

Rata-rata (μ): 60
Simp. Baku (σ): 12
Nilai Budi: 84

Kelas B

Rata-rata (μ): 80
Simp. Baku (σ): 14
Nilai Andi: 94

🎯 Misi 1: Pahami Penyebaran

Alat: Variansi & Simp. Baku

Pertanyaan: Apakah nilai dalam Kelas A menyebar atau terkonsentrasi di sekitar rata-rata?

Analisis: Kelas A memiliki Simpangan Baku 12 (Variansi = 144). Artinya, secara umum rentang nilai mahasiswa di kelas tersebut menyebar dan menyimpang rata-rata sejauh ±12 poin dari nilai tengahnya (60). Ini menunjukkan adanya keragaman (penyebaran) di dalam kelas tersebut, bukan menumpuk persis di angka 60.

⚖️ Misi 2: Bandingkan Kedua Kelas

Alat: Koefisien Variansi (KV)

Pertanyaan: Jika rata-rata kedua kelas berbeda, kelompok mana yang mempunyai penyebaran relatif lebih besar?

Analisis: Secara absolut, Kelas B lebih menyebar (14 > 12). Tapi mari kita hitung KV-nya!
• KV Kelas A = (12 / 60) × 100% = 20.0%
• KV Kelas B = (14 / 80) × 100% = 17.5%

Kesimpulan: Kelas A mempunyai penyebaran relatif yang lebih besar. Penyimpangan 12 poin pada rata-rata 60 terasa lebih "mengguncang" dibandingkan penyimpangan 14 poin pada rata-rata raksasa 80.

👤 Misi 3: Evaluasi Posisi Individu

Alat: Z-Score

Pertanyaan: Apakah nilai Budi (84) di Kelas A dan Andi (94) di Kelas B berada jauh di atas atau di bawah rata-rata kelasnya? Siapa yang lebih bersinar?

Analisis: Mari kita standarkan nilai mereka.
• Z-Score Budi = (84 - 60) / 12 = + 2.0 (Sangat Tinggi)
• Z-Score Andi = (94 - 80) / 14 = + 1.0 (Tinggi)

Kesimpulan: Meski nilai mentah Andi lebih besar (94), Budi jauh lebih bersinar di kelasnya. Budi berhasil melampaui teman-temannya sejauh 2 simpangan baku, sementara Andi hanya 1 simpangan baku di atas teman-temannya.

📝 Ruang Refleksi: Susun Kesimpulanmu!

Setelah menyelesaikan 3 misi di atas, jelaskan dengan kata-katamu sendiri: Apa perbedaan fungsi dari Variansi, Koefisien Variansi, dan Z-Score? (Jangan tulis rumusnya, tulis fungsinya).

🎯 Kesimpulan Ideal (Inti Statistika Deskriptif):

"Variansi digunakan untuk mengetahui seberapa besar penyebaran nilai di dalam satu kelompok. Koefisien Variansi (KV) digunakan untuk membandingkan penyebaran relatif antar-kelompok yang memiliki rata-rata berbeda. Sedangkan Z-score digunakan untuk mengetahui posisi satu nilai individu terhadap rata-rata kelompoknya."