Penguatan Materi: Pendekatan Pembelajaran

Klik area ini untuk menyegarkan fokus sebelum eksplorasi (Interactive Header)

Pilih Pendekatan:

Deep Learning

Fokus Utama: Pemahaman bermakna dan transfer pengetahuan, bukan sekadar menghafal.

đź’ˇ Simulasi Penguatan:
Mahasiswa A hafal rumus gaya gravitasi. Mahasiswa B menggunakan rumus tersebut untuk merancang parasut sederhana yang aman. Deep learning terjadi pada Mahasiswa B karena ia mentransfer pengetahuan konseptual ke dalam pemecahan masalah dunia nyata.
Penguatan: Pendekatan Pembelajaran
Strategi Pembelajaran • Pertemuan 3

Penguatan: Memilih Pendekatan Pembelajaran yang Tepat

Enam pendekatan sudah dipresentasikan. Sekarang kita tidak berhenti pada hafalan istilah. Tantangannya adalah membaca kebutuhan kelas, menentukan fokus, lalu memilih atau memadukan pendekatan secara beralasan.

Pembelajaran MendalamBerdiferensiasiTaRLSTEM/STEAMSSICRT

Pesan kunci setelah enam presentasi

Jangan bertanya, “Pendekatan mana yang paling bagus?” Pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Masalah pembelajaran apa yang sedang saya hadapi, dan pendekatan apa yang paling relevan untuk menjawabnya?”

Satu kelas dapat membutuhkan lebih dari satu pendekatan. Misalnya, guru dapat memulai dengan asesmen diagnostik untuk mengetahui titik awal murid, mengelompokkan atau menyesuaikan dukungan, menggunakan konteks budaya setempat, menghadirkan persoalan nyata, lalu membawa murid pada proses belajar yang mendalam dan reflektif.
1. MembedakanMenjelaskan fokus utama keenam pendekatan tanpa mencampuradukkan konsepnya.
2. MemilihMenghubungkan masalah kelas dengan pendekatan yang relevan.
3. MerancangMemadukan beberapa pendekatan secara logis dalam satu rancangan pembelajaran.

Enam pertanyaan untuk mengingat keenam pendekatan

01 • Pembelajaran Mendalam

Bagaimana agar belajar tidak berhenti pada “tahu”?

Fokus pada pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, dengan pengembangan murid secara holistik.

02 • Berdiferensiasi

Bagaimana menghadapi murid yang berbeda-beda?

Guru menyesuaikan pembelajaran berdasarkan kebutuhan murid, misalnya pada kesiapan, minat, dan profil belajar, termasuk pada konten, proses, dan produk.

03 • TaRL

Bagaimana jika kemampuan awal murid tidak sesuai dengan tingkat kelasnya?

Mulai dari kemampuan aktual murid berdasarkan asesmen, kemudian susun pembelajaran dan dukungan sesuai tahap kemampuan tersebut.

04 • STEM/STEAM

Bagaimana membawa ilmu lintas bidang untuk memecahkan masalah nyata?

Integrasikan disiplin dan praktiknya melalui masalah, penyelidikan, desain, pembuatan, pengujian, dan perbaikan.

05 • Socio-Scientific Issues

Bagaimana melatih murid berpikir ketika sains bertemu persoalan masyarakat?

Gunakan isu nyata yang berkaitan dengan sains dan teknologi, sering kali memiliki dimensi nilai atau etika, untuk melatih argumentasi, penalaran, dan pengambilan keputusan.

06 • Culturally Responsive Teaching

Bagaimana membuat pembelajaran relevan dengan kehidupan dan budaya murid?

Jadikan pengetahuan, pengalaman, bahasa, konteks, dan identitas budaya murid sebagai sumber daya untuk membangun pembelajaran yang relevan dan responsif.

1. Pembelajaran Mendalam: kedalaman pengalaman belajar

Dalam kebijakan kurikulum Indonesia saat ini, Pembelajaran Mendalam diposisikan sebagai pendekatan yang menekankan suasana dan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, serta pengembangan murid secara holistik. Ini bukan istilah untuk kecerdasan buatan atau pembelajaran mesin.

Yang perlu diperhatikan calon guru: Pembelajaran Mendalam bukan sekadar memberi soal HOTS, membuat proyek, atau membuat pembelajaran lebih lama. Intinya adalah kualitas pengalaman belajar: murid memahami tujuan, terlibat, membangun makna, menghubungkan pengetahuan, dan merefleksikan proses belajarnya.

Contoh di SD

Topik “perubahan wujud air” tidak berhenti pada menghafal mencair–membeku–menguap. Murid mengamati peristiwa, menjelaskan mengapa terjadi, menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, berdiskusi, dan menulis refleksi tentang apa yang berubah dalam pemahamannya.

2. Pembelajaran Berdiferensiasi: merespons keragaman murid

Diferensiasi berarti guru secara sengaja menyesuaikan pembelajaran terhadap variasi murid. Yang dibedakan tidak harus tujuan belajarnya; guru dapat menyesuaikan konten, proses, produk, atau dukungan belajar sesuai kebutuhan.

Kesiapan

Seberapa jauh pengetahuan atau keterampilan awal murid terhadap tujuan yang akan dicapai?

Minat

Konteks atau tema apa yang membuat murid lebih terhubung dengan pembelajaran?

Profil belajar

Dukungan, lingkungan, atau cara belajar seperti apa yang membantu murid mengakses pembelajaran?

Konten–proses–produk

Apa yang dipelajari, bagaimana murid mempelajarinya, dan bagaimana murid menunjukkan pemahamannya?

Jangan salah kaprah: diferensiasi bukan berarti membuat 30 pelajaran berbeda untuk 30 murid. Guru merancang variasi yang terencana dan tetap menuju tujuan pembelajaran yang jelas.

3. Teaching at the Right Level (TaRL): mulai dari kemampuan aktual murid

TaRL menekankan agar pembelajaran dimulai dari tingkat kemampuan yang benar-benar dimiliki murid, bukan semata-mata dari label kelas atau usia. Karena itu, asesmen awal berperan penting untuk memetakan titik awal dan menentukan pengelompokan atau dukungan belajar.

1
Asesmen awalPetakan kemampuan aktual.
2
KelompokkanAtur dukungan sesuai kebutuhan.
3
Ajarkan dari titik awalMulai dari yang siap dipelajari.
4
Latih & dampingiBerikan dukungan yang tepat.
5
Cek kemajuanGunakan asesmen formatif.
6
Sesuaikan lagiKelompok/dukungan dapat berubah.
Hubungannya dengan diferensiasi: TaRL membantu guru menentukan “mulai dari mana”; diferensiasi membantu guru menentukan “bagaimana pembelajaran disesuaikan”. Keduanya dapat berjalan bersama.

4. STEM/STEAM: belajar melalui integrasi dan pemecahan masalah

Dalam pendekatan terpadu, STEM menghubungkan Science, Technology, Engineering, dan Mathematics; STEAM menambahkan Arts. Inti yang perlu dijaga adalah integrasi, bukan sekadar menempelkan semua mata pelajaran ke satu proyek.

Contoh alur berpikir

Masalah: Bagaimana membuat kemasan makanan sederhana yang dapat menjaga makanan tetap aman selama waktu tertentu?

Science: memahami perubahan suhu dan sifat bahan → Technology: memilih alat/bahan → Engineering: merancang dan menguji → Mathematics: mengukur, membandingkan, menghitung → Arts: menyajikan desain secara komunikatif/estetis.

Catatan penting: kegiatan membuat produk belum otomatis menjadi STEM/STEAM. Mahasiswa perlu menunjukkan hubungan antarbidang ilmu, proses desain/penyelidikan, serta alasan pedagogisnya.

5. Socio-Scientific Issues (SSI): ketika sains menjadi persoalan masyarakat

SSI menggunakan isu yang berkaitan dengan sains atau teknologi dan memiliki dimensi sosial, nilai, atau etika. Karena tidak selalu memiliki satu jawaban sederhana, pembelajaran dapat mendorong murid mencari informasi, mempertimbangkan bukti dan sudut pandang, menyusun argumen, dan mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Contoh di SD

Isu: “Haruskah sekolah mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai?”

Murid mengidentifikasi persoalan, mencari data sederhana tentang sampah plastik, memeriksa manfaat dan dampak beberapa pilihan, berdiskusi, lalu menyusun rekomendasi untuk sekolah.

Kunci SSI: bukan sekadar “ada masalah nyata”, tetapi ada keterkaitan sains dengan persoalan sosial dan terdapat ruang untuk penalaran, argumentasi, nilai, atau pengambilan keputusan.

6. Culturally Responsive Teaching (CRT): menjadikan budaya sebagai sumber belajar

CRT menempatkan pengetahuan, pengalaman, bahasa, perspektif, dan konteks budaya murid sebagai sumber daya untuk membuat pembelajaran lebih relevan dan efektif. Yang penting bukan sekadar menambahkan “budaya lokal” sebagai ornamen, tetapi menghubungkannya dengan proses memahami konsep dan pengalaman belajar.

Contoh di SD

Ketika belajar perubahan wujud atau kalor, guru dapat mengajak murid mengamati praktik pengolahan makanan yang dikenal di lingkungan keluarganya, membandingkan pengalaman, lalu menghubungkannya dengan konsep sains. Murid tidak hanya “melihat budaya”, tetapi menggunakan pengalaman itu sebagai jembatan untuk memahami konsep.

Pertanyaan untuk guru: “Apakah konteks budaya yang saya gunakan benar-benar membantu murid membangun pemahaman, atau hanya menjadi dekorasi pada awal pembelajaran?”

Peta perbedaan: jangan mencampuradukkan fokusnya

PendekatanFokus utamaPertanyaan kunci guruContoh tindakan
Pembelajaran MendalamKualitas dan kedalaman pengalaman belajarBagaimana murid benar-benar memahami dan memaknai?Refleksi, koneksi konsep, pengalaman bermakna
BerdiferensiasiVariasi kebutuhan muridApa yang perlu saya sesuaikan?Variasi dukungan, proses, produk, atau akses
TaRLTitik awal kemampuan aktualMurid ini siap belajar dari mana?Asesmen awal, pengelompokan, dukungan sesuai level
STEM/STEAMIntegrasi lintas disiplin dan pemecahan masalahBagaimana berbagai disiplin bekerja bersama?Investigasi, desain, prototipe, uji, perbaikan
SSIPersoalan sains dalam konteks sosial/etisBukti dan nilai apa yang perlu dipertimbangkan?Debat terarah, argumentasi, analisis bukti, keputusan
CRTRelevansi budaya dan pengalaman muridBagaimana konteks murid menjadi sumber belajar?Contoh lokal, pengalaman keluarga, bahasa/konteks komunitas

Kasus yang sama, pendekatan yang berbeda

Gunakan satu tema: “Air bersih di lingkungan sekolah”. Perhatikan bagaimana fokus pembelajarannya berubah.

Pembelajaran Mendalam

Memahami sampai bermakna

Murid menyelidiki penggunaan air, menjelaskan penyebab pemborosan, menghubungkan konsep dengan kebiasaan sehari-hari, lalu merefleksikan perubahan perilaku.

Apa yang dinilai?Pemahaman konseptual, koneksi dengan pengalaman, kualitas alasan, dan refleksi.
Berdiferensiasi

Merespons perbedaan murid

Semua menuju tujuan yang sama, tetapi sebagian murid mendapat data/gambar yang lebih terstruktur, sementara murid lain menganalisis tabel penggunaan air yang lebih kompleks.

Apa yang dinilai?Pencapaian tujuan, dengan dukungan dan bentuk proses/produk yang disesuaikan.
TaRL

Mulai dari kemampuan aktual

Guru memeriksa terlebih dahulu kemampuan membaca tabel, berhitung, dan memahami satuan. Pembelajaran awal disusun berdasarkan hasil pemetaan tersebut.

Apa yang dinilai?Perkembangan dari titik awal kemampuan murid.
STEM/STEAM

Merancang solusi

Murid merancang alat sederhana atau sistem pengingat penggunaan air, membuat prototipe, menguji, mengukur, lalu memperbaiki rancangan.

Apa yang dinilai?Proses investigasi, desain, penggunaan data, dan perbaikan solusi.
SSI

Menimbang pilihan masyarakat

Murid membahas pilihan kebijakan sekolah: membatasi air kemasan, menambah titik isi ulang, atau membuat aturan lain. Mereka menggunakan bukti dan mempertimbangkan dampaknya.

Apa yang dinilai?Argumentasi, penggunaan bukti, pertimbangan berbagai sudut pandang, dan kualitas keputusan.
CRT

Mengaitkan dengan konteks komunitas

Murid membandingkan cara keluarga dan masyarakat sekitar memperoleh, menyimpan, dan menggunakan air, kemudian menghubungkannya dengan konsep yang dipelajari.

Apa yang dinilai?Penggunaan pengalaman/konteks budaya sebagai sumber untuk memahami konsep.

Bagian paling penting: pendekatan dapat dipadukan

Guru tidak harus memilih satu pendekatan untuk seluruh proses. Yang lebih penting adalah alasan pedagogis setiap keputusan.

1
TaRLPetakan kemampuan awal murid.
2
DiferensiasiSesuaikan dukungan dan aktivitas.
3
CRTPilih konteks yang dekat dengan murid.
4
SSI/STEMHadapkan pada masalah atau isu.
5
Deep LearningBangun pengalaman bermakna.
6
RefleksiEvaluasi proses dan perubahan pemahaman.
Contoh sintesis: pada topik “sampah plastik”, guru memetakan kemampuan membaca data (TaRL), menyediakan sumber dan produk dengan tingkat dukungan berbeda (diferensiasi), memakai masalah sampah di lingkungan murid (CRT), membahas pilihan pengurangan plastik sebagai persoalan sosial-sains (SSI), meminta murid merancang solusi sederhana (STEM), kemudian menutup dengan refleksi mendalam tentang bukti, pilihan, dan dampaknya.

Latihan cepat: pendekatan mana yang paling relevan sebagai fokus utama?

Kasus A

Di kelas IV, sebagian murid belum lancar membaca tabel sederhana, padahal materi berikutnya menuntut interpretasi data. Guru ingin mengetahui titik awal kemampuan sebelum menentukan aktivitas.

Lihat arah jawabanTaRL relevan sebagai fokus awal karena masalah utamanya adalah ketepatan titik awal kemampuan. Hasil asesmen kemudian dapat digunakan untuk diferensiasi.

Kasus B

Guru ingin mengajak murid membahas penggunaan energi di rumah. Murid membandingkan bukti, mempertimbangkan biaya dan dampak lingkungan, lalu menyusun rekomendasi kebiasaan keluarga.

Lihat arah jawabanSSI dapat menjadi fokus utama karena ada persoalan sains yang terkait keputusan sosial dan pertimbangan nilai. STEM dapat ditambahkan bila murid juga merancang solusi teknis.

Kasus C

Guru mengajarkan konsep bunyi dengan contoh alat musik tradisional yang dikenal murid di daerahnya, sekaligus mengundang cerita pengalaman keluarga dan menggunakannya untuk memahami konsep getaran.

Lihat arah jawabanCRT tampak paling menonjol karena pengalaman budaya murid menjadi jembatan untuk membangun pemahaman konsep.

Exit ticket mahasiswa

Sebelum meninggalkan halaman ini, jawab tiga pertanyaan berikut secara singkat di buku/catatan Anda.

Tantangan 10 menit: “Jadilah guru, bukan penghafal istilah.”

Pilih satu topik SD yang dekat dengan kehidupan murid. Buat mini-rancangan 6 baris:

Tujuan → masalah/konteks → asesmen awal → pendekatan utama → bentuk aktivitas → bukti belajar

Setelah itu, tambahkan satu pendekatan kedua dan jelaskan mengapa pendekatan tersebut diperlukan.

Rujukan utama

Materi diringkas untuk kepentingan perkuliahan. Untuk pendalaman, gunakan sumber berikut.

  1. Sistem Informasi Kurikulum Nasional — Pembelajaran Mendalam
  2. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025
  3. Rumah Pendidikan — Asesmen Murid / Teaching at the Right Level
  4. Teaching Socioscientific Issues: A Systematic Review
  5. Frontiers in Education — differentiated instruction
  6. Frontiers in Education — culturally responsive teaching
  7. Asia-Pacific Science Education — STEM/STEAM review