Thoriqi Firdaus, S.Pd., M.Pd.
Dosen Pendidikan IPA Universitas Pelita Bangsa
Jenis Data & Skala Pengukuran
Pelajari klasifikasi data (kualitatif vs kuantitatif) dan pahami bagaimana skala pengukuran (Nominal, Ordinal, Interval, Rasio) menentukan teknik analisis statistik fundamental yang tepat untuk penelitian Anda.
Apakah Semua Angka & Kata Itu Sama?
Silakan klik pada data di dalam tabel di bawah ini untuk melihat karakteristiknya.
| Mahasiswa | Program Studi | Tingkat Kepuasan | Nilai Ujian | Jumlah Kehadiran | Lama Belajar |
|---|---|---|---|---|---|
| A | Pendidikan Biologi | Puas | 85 | 14 | 3 jam |
| B | Pendidikan Fisika | Sangat Puas | 90 | 16 | 4 jam |
| C | Pendidikan Biologi | Cukup | 75 | 12 | 2 jam |
Data Kualitatif vs Kuantitatif
Data Kualitatif
Data yang menunjukkan kualitas, kategori, atau atribut. Tidak dapat dioperasikan secara matematis (tidak bisa ditambah atau dikurangi).
- Berbentuk kata, kategori, atau label angka
- Bersifat klasifikasi atau deskriptif
- Dianalisis menggunakan modus atau persentase
Data Kuantitatif
Data yang dinyatakan dalam bentuk angka nyata yang didapatkan dari hasil perhitungan (diskrit) atau pengukuran (kontinu).
- Menunjukkan jumlah atau ukuran sebenarnya
- Dapat dilakukan operasi matematika (+, -, ×, ÷)
- Dianalisis dengan mean (rata-rata), uji-t, atau korelasi
Interaktif: Klik pada setiap kotak di bawah ini untuk melihat penjelasan detailnya.
-
DATA
-
Kualitatif (Atribut/Kategori)
- Nominal
- Ordinal
-
Kuantitatif (Angka Ukur)
- Interval
- Rasio
-
1. Nominal
Skala paling dasar. Hanya berfungsi sebagai label atau kategori untuk membedakan. Tidak ada tingkatan (yang satu tidak lebih tinggi dari yang lain).
2. Ordinal
Memiliki kategori seperti nominal, namun memiliki urutan atau tingkatan (hierarki). Jarak antar tingkatan tidak selalu sama.
3. Interval
Angka nyata dengan jarak antar angka yang jelas dan konsisten. Namun, tidak memiliki angka nol mutlak (nol bukan berarti tidak ada sama sekali).
4. Rasio
Skala tertinggi. Memiliki jarak yang jelas dan memiliki nol mutlak (nol berarti benar-benar tidak ada/kosong). Bisa dilakukan perkalian/pembagian.
Apakah Data Kualitatif Bisa Menjadi Kuantitatif?
Kualitatif ➡️ Kuantitatif (Kuantifikasi / Coding)
Data kualitatif (khususnya Ordinal) sangat sering diubah menjadi angka agar bisa dihitung menggunakan rumus statistik. Hal ini umum dilakukan pada instrumen kuesioner berskala Likert.
Contoh Kasus PGSD: Angket Motivasi Siswa.
Pilihan Sangat Setuju diubah menjadi angka 4.
Pilihan Setuju diubah menjadi 3, dst. Angka ini kemudian dijumlahkan untuk dicari rata-ratanya.
Kuantitatif ➡️ Kualitatif (Kategorisasi)
Data kuantitatif (Rasio/Interval) juga bisa diubah ke kualitatif jika peneliti hanya ingin melihat pengelompokan secara umum, bukan nilai persisnya.
Contoh Kasus PGSD: Nilai Ujian Matematika.
Nilai asli 85, 90, 75 (Kuantitatif / Rasio) dikelompokkan ke dalam rentang:
Nilai 80-100 = Tuntas (Kualitatif / Ordinal).
Nilai <80 = Belum Tuntas.
Simulasi Transformasi Data (Coding)
Ubah hasil kuesioner dari teks (Kualitatif) menjadi angka (Kuantitatif)
Kenapa harus diubah menjadi angka?
Karena teks "Sangat Setuju" tidak bisa ditambahkan dengan "Setuju". Dengan mengubahnya menjadi angka berskala, kita bisa melakukan analisis matematika seperti mencari total skor atau nilai rata-rata (Mean).
Kesimpulan: Rata-rata skor minat belajar Siswa A adalah (Kategori: Tinggi).
Simulasi Kategorisasi Data
Ubah Angka Pengukuran (Kuantitatif) menjadi Kategori Predikat (Kualitatif)
| Nama Siswa | Nilai IPA (Kuantitatif - Rasio) |
Predikat Rapor (Kualitatif - Ordinal) |
|---|---|---|
| Budi Santoso | 92 | ? |
| Siti Aminah | 78 | ? |
| Doni Pratama | 65 | ? |
| Rina Melati | 54 | ? |
Kenapa angka murni harus diubah jadi kategori?
Dalam evaluasi pendidikan dasar (PGSD), nilai 54 dan 65 mungkin tidak memberi banyak makna bagi orang tua siswa. Dengan mengubahnya menjadi kategori deskriptif, guru bisa lebih mudah membuat keputusan (misal: menentukan siapa yang butuh remedial) dan laporan lebih mudah dipahami secara kualitatif.
• 86 - 100 = Sangat Baik
• 71 - 85 = Baik
• 61 - 70 = Cukup
• 0 - 60 = Kurang (Remedial)
Dashboard Riset: PTK Pembelajaran IPA SD
Judul Riset: Penerapan Model Project Based Learning (PjBL) terhadap Hasil Belajar dan Minat Siswa Kelas V pada Materi Ekosistem.
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM): 75
| No | Nama Siswa | Nilai Awal | Nilai Akhir |
Skor Minat
(10-40) ⓘ
Dari mana angka 10-40?
Asumsi angket memiliki 10 pertanyaan dengan Skala Likert 1-4. • Skor Min 10: (10 soal × skor terendah 1) • Skor Max 40: (10 soal × skor tertinggi 4) Ini adalah contoh data kualitatif yang dikuantifikasi menjadi interval untuk mencari rata-rata. |
|---|
untuk mengubah data mentah menjadi temuan riset.
Berdasarkan analisis statistik deskriptif, transformasi nilai pengukuran ke kategori ketuntasan membuktikan bahwa model PjBL efektif meningkatkan pemahaman siswa melebihi target minimal (Ketuntasan > 80%).

