Thoriqi Firdaus, S.Pd., M.Pd.
Dosen Universitas Pelita Bangsa
Bayangkan Anda Menjadi Guru SD
Besok Anda harus mengajar.
Tetapi sebelum menentukan aktivitas, satu pertanyaan harus terjawab:
"Kemampuan apa yang harus dicapai peserta didik?"
"Guru yang Sibuk Merancang"
Seorang guru ingin mengajar topik tertentu. Ia langsung membuat:
- ✅ Materi
- ✅ PowerPoint
- ✅ LKPD
- ✅ Permainan
Tetapi ia belum menentukan kompetensi yang harus dicapai siswa.
Apakah rancangan pembelajaran tersebut sudah tepat?
“Di sinilah CP, TP, dan ATP berperan.”
“Kita Mau Membawa Siswa Ke Mana?”
Menurut Anda, CP menjawab pertanyaan apa?
Capaian Pembelajaran (CP) bukanlah sekadar daftar materi (seperti di pilihan A) atau langkah-langkah aktivitas harian (seperti di pilihan C).
CP adalah titik akhir (destinasi). Sebelum merancang jalan dan kendaraannya, Anda harus tahu persis ke mana siswa ini harus sampai di akhir perjalanan fase mereka.
CP atau Bukan CP?
Klik kartu yang menurut Anda termasuk rumusan kompetensi.
Inti yang perlu diingat:
- CP bukan daftar aktivitas guru.
- CP bukan daftar media.
- CP bukan sekadar daftar materi.
“CP Masih Terlalu Besar”
Kalau CP adalah target besar pada akhir fase, apakah guru langsung menggunakannya untuk satu kegiatan pembelajaran hari itu?
CP umumnya terlalu luas untuk diajarkan dalam satu kali pertemuan. Oleh karena itu, CP perlu diturunkan menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) yang lebih konkret, spesifik, dan dapat diukur per kegiatan.
Bongkar CP Menjadi TP
Contoh Capaian Pembelajaran (CP)
“Peserta didik memahami hubungan antara manusia dan lingkungan serta mampu menunjukkan perilaku yang sesuai dalam kehidupan sehari-hari.”
Instruksi: Susun tujuan pembelajaran di bawah ini dari kemampuan yang lebih sederhana menuju yang lebih kompleks.
(Klik kartu untuk memindahkannya ke kotak urutan, klik lagi untuk membatalkan)
✅ Benar!
Dari satu CP, guru dapat merumuskan beberapa TP yang lebih konkret.
Proses mengurutkan TP dari yang paling sederhana (mengidentifikasi) hingga yang paling kompleks (menunjukkan perilaku) inilah yang disebut dengan menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
Formula Sederhana Merumuskan TP
"Sekarang Kita Susun Jalurnya"
Kita sudah memiliki beberapa Tujuan Pembelajaran (TP). Pertanyaannya sekarang:
Apakah TP tersebut boleh diletakkan sembarangan?
Klik potongan puzzle di bawah ini secara berurutan untuk membentuk alur yang paling logis.
💡 Bukan Sekadar Taksonomi
Menyusun alur (ATP) tidak harus selalu menggunakan taksonomi (seperti Bloom) sebagai aturan yang kaku.
Justru yang paling ditekankan adalah: Alur harus mempertimbangkan keterkaitan antar materi, prasyarat belajar, dan kebutuhan spesifik peserta didik Anda. Logika urutannya bisa bergerak dari yang mudah ke sulit, dari konkret ke abstrak, atau dari pengenalan umum ke detail spesifik.
Gambaran Besar Pembelajaran
Klik pada setiap tahapan untuk membedah anatominya.
Judul
❓ Pertanyaan yang Dijawab:
Isi pertanyaan...
⚙️ Fungsi:
Isi fungsi...
📝 Contoh:
Isi contoh...
⚠️ Kesalahan Umum:
Isi kesalahan...
"Jebakan Guru"
Mari melatih daya kritis Anda. Bacalah rancangan pembelajaran di bawah ini dan temukan apa yang salah.
⚠️ Skenario Rancangan Pembelajaran:
✅ Benar Sekali! (Jawaban: D)
Ketiga opsi di atas saling berkaitan dan berujung pada satu masalah besar yang sering disebut "Activity Trap" (Jebakan Aktivitas).
Guru sering kali terlalu fokus membuat kelas menjadi menyenangkan (dengan game atau metode seru), tetapi lupa memastikan apakah pembelajaran itu bermakna dan mencapai target.
Analogi Sederhana:
Permainan/aktivitas hanyalah kendaraan. Tujuan Pembelajaran (TP) adalah destinasi.
Jangan memilih kendaraan (aktivitas) sebelum Anda tahu pasti mau pergi ke mana (kompetensi)!
Bagaimana Rancangan Pembelajaran yang Baik?
Klik tombol pada masing-masing kartu untuk melihat apa maknanya dalam praktik nyata di kelas Anda.
Sekarang Buat Milik Anda
Pilih satu Capaian Pembelajaran (CP) mata pelajaran SD (silakan cari di dokumen kurikulum). Kemudian, buatlah rancangan sederhana CP → TP → ATP → Pembelajaran menggunakan template di bawah ini!

