Thoriqi Firdaus, S.Pd., M.Pd
Pengembang Platform & Instruktur Utama

Thoriqi Firdaus, S.Pd., M.Pd.

Dosen Universitas Pelita Bangsa

💻 Digital Pedagogy 🤖 AI in Science Education 🌱 STEM-Green Integration 🌍 Socio-scientific Issues
Strategi Pembelajaran - Pertemuan 2

Bayangkan Anda Menjadi Guru SD

Besok Anda harus mengajar.

Tetapi sebelum menentukan aktivitas, satu pertanyaan harus terjawab:

"Kemampuan apa yang harus dicapai peserta didik?"

MULAI MISI →

"Guru yang Sibuk Merancang"

📚 Materi
🎯 Tujuan
📝 LKPD
🎲 Aktivitas
📊 Asesmen

Seorang guru ingin mengajar topik tertentu. Ia langsung membuat:

  • ✅ Materi
  • ✅ PowerPoint
  • ✅ LKPD
  • ✅ Permainan

Tetapi ia belum menentukan kompetensi yang harus dicapai siswa.

Apakah rancangan pembelajaran tersebut sudah tepat?

“Kita Mau Membawa Siswa Ke Mana?”

Menurut Anda, CP menjawab pertanyaan apa?

A
“Materi apa yang akan diajarkan?”
B
“Kompetensi apa yang diharapkan dicapai pada akhir fase?”
C
“Aktivitas apa yang akan dilakukan siswa?”
🎯 CP = Gambaran kompetensi yang diharapkan dicapai peserta didik pada akhir fase.

Capaian Pembelajaran (CP) bukanlah sekadar daftar materi (seperti di pilihan A) atau langkah-langkah aktivitas harian (seperti di pilihan C).

CP adalah titik akhir (destinasi). Sebelum merancang jalan dan kendaraannya, Anda harus tahu persis ke mana siswa ini harus sampai di akhir perjalanan fase mereka.

CP atau Bukan CP?

Klik kartu yang menurut Anda termasuk rumusan kompetensi.

Menyebutkan nama-nama tumbuhan
Peserta didik mampu memahami hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya
Membuat LKPD
Melaksanakan diskusi kelompok
Menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungan

Inti yang perlu diingat:

  • CP bukan daftar aktivitas guru.
  • CP bukan daftar media.
  • CP bukan sekadar daftar materi.

“CP Masih Terlalu Besar”

Kalau CP adalah target besar pada akhir fase, apakah guru langsung menggunakannya untuk satu kegiatan pembelajaran hari itu?

CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP)
TP 1
TP 2
TP 3
Tidak selalu.

CP umumnya terlalu luas untuk diajarkan dalam satu kali pertemuan. Oleh karena itu, CP perlu diturunkan menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) yang lebih konkret, spesifik, dan dapat diukur per kegiatan.

Bongkar CP Menjadi TP

Contoh Capaian Pembelajaran (CP)

“Peserta didik memahami hubungan antara manusia dan lingkungan serta mampu menunjukkan perilaku yang sesuai dalam kehidupan sehari-hari.”

Instruksi: Susun tujuan pembelajaran di bawah ini dari kemampuan yang lebih sederhana menuju yang lebih kompleks.
(Klik kartu untuk memindahkannya ke kotak urutan, klik lagi untuk membatalkan)

Menunjukkan perilaku menjaga lingkungan
Mengidentifikasi hubungan manusia dan lingkungan
Menjelaskan bentuk interaksi manusia dengan lingkungan

✅ Benar!

Dari satu CP, guru dapat merumuskan beberapa TP yang lebih konkret.

Proses mengurutkan TP dari yang paling sederhana (mengidentifikasi) hingga yang paling kompleks (menunjukkan perilaku) inilah yang disebut dengan menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).

Formula Sederhana Merumuskan TP

TUJUAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
LINGKUP MATERI
"Mengidentifikasi hubungan manusia dan lingkungan"
Kompetensi: Mengidentifikasi Materi: Hubungan manusia & lingkungan
"Menyajikan hasil pengamatan tentang daur air"
Kompetensi: Menyajikan Materi: Hasil pengamatan daur air
"Menganalisis penyebab terjadinya banjir di lingkungan sekitar"
Kompetensi: Menganalisis Materi: Penyebab banjir di lingkungan sekitar

"Sekarang Kita Susun Jalurnya"

Kita sudah memiliki beberapa Tujuan Pembelajaran (TP). Pertanyaannya sekarang:
Apakah TP tersebut boleh diletakkan sembarangan?

Klik potongan puzzle di bawah ini secara berurutan untuk membentuk alur yang paling logis.

Menganalisis hubungan antar komponen
Memahami konsep dasar
Menerapkan konsep dalam masalah nyata
Mengidentifikasi komponen penyusun
↓
↓
↓

💡 Bukan Sekadar Taksonomi

Menyusun alur (ATP) tidak harus selalu menggunakan taksonomi (seperti Bloom) sebagai aturan yang kaku.

Justru yang paling ditekankan adalah: Alur harus mempertimbangkan keterkaitan antar materi, prasyarat belajar, dan kebutuhan spesifik peserta didik Anda. Logika urutannya bisa bergerak dari yang mudah ke sulit, dari konkret ke abstrak, atau dari pengenalan umum ke detail spesifik.

Gambaran Besar Pembelajaran

Klik pada setiap tahapan untuk membedah anatominya.

CP
Target akhir fase
↓
TP
Tujuan yang lebih konkret
↓
ATP
Urutan tujuan secara logis & sistematis
↓
Rancangan Pembelajaran
Bagaimana pembelajaran dilaksanakan
👈 Klik salah satu kotak di samping untuk melihat rinciannya.

Judul

❓ Pertanyaan yang Dijawab:

Isi pertanyaan...

⚙️ Fungsi:

Isi fungsi...

📝 Contoh:

Isi contoh...

⚠️ Kesalahan Umum:

Isi kesalahan...

"Jebakan Guru"

Mari melatih daya kritis Anda. Bacalah rancangan pembelajaran di bawah ini dan temukan apa yang salah.

⚠️ Skenario Rancangan Pembelajaran:

1 Guru menentukan permainan yang seru terlebih dahulu.
2 Kemudian guru mencarikan materi yang bisa dimasukkan.
3 Terakhir, guru merumuskan tujuan pembelajaran agar cocok dengan permainannya.
Apa masalah utama dari cara berpikir guru tersebut?

✅ Benar Sekali! (Jawaban: D)

Ketiga opsi di atas saling berkaitan dan berujung pada satu masalah besar yang sering disebut "Activity Trap" (Jebakan Aktivitas).

Guru sering kali terlalu fokus membuat kelas menjadi menyenangkan (dengan game atau metode seru), tetapi lupa memastikan apakah pembelajaran itu bermakna dan mencapai target.

Analogi Sederhana:
Permainan/aktivitas hanyalah kendaraan. Tujuan Pembelajaran (TP) adalah destinasi.
Jangan memilih kendaraan (aktivitas) sebelum Anda tahu pasti mau pergi ke mana (kompetensi)!

Bagaimana Rancangan Pembelajaran yang Baik?

Klik tombol pada masing-masing kartu untuk melihat apa maknanya dalam praktik nyata di kelas Anda.

01
Berorientasi pada Tujuan
Rancangan pembelajaran harus berangkat dari kompetensi yang ingin dicapai, bukan dari aktivitasnya.
💡 Dalam Praktik: Jangan memulai persiapan dengan "Besok kita main tebak-tebakan kata ya!". Mulailah dengan "Besok anak-anak harus bisa membedakan huruf vokal dan konsonan. Permainan apa yang cocok ya?"
02
Selaras (Aligned)
CP, TP, ATP, aktivitas, dan asesmen (penilaian) harus memiliki keterkaitan yang jelas dan terarah.
💡 Dalam Praktik: Jika tujuan pembelajarannya adalah siswa mampu "membaca puisi dengan intonasi yang tepat", maka ujiannya harus berupa praktik membaca puisi di depan kelas, bukan mengerjakan soal pilihan ganda tentang teori puisi.
03
Kontekstual
Pembelajaran mempertimbangkan karakteristik peserta didik, budaya lokal, dan kondisi satuan pendidikan.
💡 Dalam Praktik: Jika Anda mengajar di SD daerah pegunungan, gunakan contoh perkebunan sayur atau kondisi geografis dataran tinggi saat mengajar IPA. Jangan memaksakan contoh stasiun kereta api bawah tanah yang belum pernah mereka alami.
04
Sistematis
Pembelajaran memiliki urutan yang logis dan bertahap dari yang sederhana menuju kompleks.
💡 Dalam Praktik: Materi tidak dilompat-lompat. Misalnya, siswa kelas 2 diajarkan penjumlahan bilangan satuan terlebih dahulu, baru masuk ke puluhan, dan terakhir memecahkan soal cerita matematika sehari-hari.
05
Adaptif
Rancangan dapat disesuaikan secara fleksibel dengan kebutuhan, kecepatan, dan kondisi peserta didik.
💡 Dalam Praktik: Rancangan pembelajaran bukanlah kitab suci! Jika hari ini mayoritas siswa terlihat belum memahami konsep pembagian, guru tidak perlu memaksakan diri masuk ke materi pecahan besok hari. Sesuaikan langkah dengan kesiapan mereka.

Sekarang Buat Milik Anda

Instruksi Misi Akhir:
Pilih satu Capaian Pembelajaran (CP) mata pelajaran SD (silakan cari di dokumen kurikulum). Kemudian, buatlah rancangan sederhana CP → TP → ATP → Pembelajaran menggunakan template di bawah ini!
Lembar Rancangan Pembelajaran