Sebelum Kamu Menekan Tombol Post

"Kalau sesuatu bisa kamu unggah, apakah berarti kamu boleh mengunggahnya?"

Tanyakan hal ini pada dirimu:

01 — Tentang kebebasan Apakah media sosial adalah ruang bebas untuk mengatakan apa saja? Mengapa?
02 — Tentang kebenaran Kalau informasi yang kamu bagikan ternyata salah, tetapi kamu tidak tahu bahwa informasi itu salah, apakah kamu tetap bertanggung jawab?
03 — Tentang privasi Kalau kamu memiliki foto atau video orang lain, apakah otomatis kamu berhak mengunggahnya?
04 — Tentang kritik Di mana batas antara kritik, penghinaan, dan serangan terhadap seseorang?
05 — Tentang promosi Jika sebuah kampus ingin mendapatkan lebih banyak mahasiswa, apakah semua cara untuk membuat kampus terlihat menarik dapat dibenarkan?
06 — Pertanyaan penutup Menurut kamu, siapa yang paling bertanggung jawab atas sebuah unggahan: pembuat konten, orang yang membagikannya, atau platform?

Menurut kamu, sebelum mengunggah sesuatu,
apa yang paling penting dipertimbangkan?

Menarik. Tetapi apakah “benar” selalu berarti “layak dipublikasikan”?

Bagaimana jika informasi tersebut benar, tetapi merupakan informasi pribadi seseorang?

Dari “Boleh” Menjadi “Bertanggung Jawab”

Di media sosial, kita tidak hanya perlu bertanya "Apakah saya bisa mengunggahnya?" tetapi juga:

  • Apakah saya seharusnya mengunggahnya?
  • Apa dampaknya bagi orang lain?
  • Apakah informasi ini benar dan dapat dipertanggungjawabkan?
  • Apakah cara saya menyampaikannya sudah etis?
  • Apakah unggahan ini memiliki konsekuensi hukum?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan kita bahas pada pertemuan ini.

MULAI PEMBELAJARAN →

Memahami Etika dalam Ruang Digital

Media sosial bukan hanya ruang untuk berbagi informasi, tetapi juga ruang interaksi sosial.

Ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain, terdapat nilai dan norma yang mengatur bagaimana interaksi tersebut dilakukan.

Di sinilah etika diperlukan.

SIKAP

Bagaimana kita memandang dan menghargai orang lain.

↓

TINDAKAN

Bagaimana kita berkomunikasi dan berperilaku di media sosial.

↓

DAMPAK

Konsekuensi yang dapat muncul dari tindakan tersebut.

Apa itu etika bermedia sosial?

Etika bermedia sosial adalah seperangkat nilai dan prinsip yang menjadi pedoman dalam berkomunikasi, berinteraksi, membuat, menggunakan, dan membagikan informasi melalui media sosial secara bertanggung jawab.

Susun Maknanya

Klik setiap kotak di bawah ini untuk melihat penjelasannya.

1. NILAI +
Menghargai, menghormati, jujur, dan bertanggung jawab.
2. PERILAKU +
Nilai tersebut diwujudkan melalui cara berkomentar, membuat konten, membagikan informasi, dan berinteraksi.
3. TANGGUNG JAWAB +
Pengguna perlu mempertimbangkan konsekuensi dari perilaku digitalnya.
Etika bukan sekadar aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Etika membantu kita menentukan bagaimana seharusnya berperilaku ketika menggunakan media sosial.

Mengapa Etika Dibutuhkan?

MEDIA SOSIAL
CEPAT
LUAS
TERBUKA
PERLU ETIKA

Semakin luas ruang interaksi, semakin penting adanya etika sebagai pedoman perilaku.

Klik tab di bawah ini untuk melihat dampaknya:

Pilih salah satu karakter di atas untuk melihat penjelasannya.

Ruang Digital dan Norma Sosial

Di ruang fisik, kita mengenal norma kesopanan. Di ruang digital, prinsip yang sama tetap berlaku—meskipun bentuk interaksinya berbeda.

Ruang Tatap MukaRuang Digital
BerbicaraMenulis komentar
Menyampaikan pendapatMembuat posting
Berbagi informasiSharing
BerdiskusiReply / Thread
Menunjukkan sikapLike, reaction, emoji
Menyebarkan informasiRepost / forward
Teknologinya berubah, tetapi tanggung jawab dalam berinteraksi tetap ada.

Padankan Perilakunya

Klik prinsip di sebelah kiri untuk melihat wujud perilakunya di ruang digital.

Menghormati lawan bicara
→
Tidak melakukan serangan personal
Memeriksa informasi
→
Tidak meneruskan info yang belum jelas
Menghargai karya orang lain
→
Memberikan atribusi/sumber
Menjaga hubungan sosial
→
Menggunakan bahasa yang pantas

5 Prinsip Utama Etika Bermedia Sosial

Klik setiap prinsip di bawah ini untuk mempelajari definisi dan melihat contoh praktiknya.

01Respect (Menghormati)
+
Menghargai martabat, pendapat, privasi, dan perbedaan orang lain.
Contoh: Berbeda pendapat di kolom komentar tanpa menggunakan kata-kata kasar atau menyerang fisik (body shaming).
02Responsibility (Bertanggung Jawab)
+
Menyadari bahwa setiap tindakan digital merupakan bagian dari tanggung jawab pengguna.
Contoh: Menghapus atau meralat unggahan apabila menyadari bahwa informasi yang dibagikan sebelumnya ternyata keliru.
03Accuracy (Akurasi)
+
Mengutamakan informasi yang benar dan tidak sembarangan menyebarkan info yang belum diverifikasi.
Contoh: Mengecek sumber berita melalui portal berita resmi sebelum meneruskannya ke grup WhatsApp angkatan.
04Privacy (Privasi)
+
Tidak menggunakan atau menyebarkan informasi pribadi orang lain secara sembarangan.
Contoh: Meminta izin terlebih dahulu sebelum mengunggah foto teman atau menyamarkan nomor KTP/telepon dalam sebuah tangkapan layar.
05Integrity (Integritas)
+
Tidak memanipulasi, menipu, menjiplak, atau mengambil karya orang lain tanpa pengakuan yang semestinya.
Contoh: Mencantumkan nama pembuat asli (kredit) saat menggunakan infografis atau foto karya orang lain untuk keperluan promosi BEM/Kampus.

Etika dalam Praktik

Mari uji pemahaman Anda melalui dua studi kasus konkret berikut.

Seorang mahasiswa membuat infografis tentang kegiatan kampus. Ia menggunakan foto yang dibuat oleh fotografer lain dari internet. Prinsip etika mana yang paling relevan?
Tepat! (D. Integrity)
Penggunaan karya pihak lain berkaitan dengan integritas dan penghargaan terhadap karya. Pengguna perlu memperhatikan sumber, atribusi, dan ketentuan penggunaan karya tersebut.
Seorang mahasiswa membuat video kegiatan organisasi. Di dalam video terlihat beberapa mahasiswa lain yang tidak terlibat sebagai panitia. Prinsip apa yang paling perlu diperhatikan?
Tepat! (A. Privacy)
Penggunaan gambar wajah atau identitas individu perlu memperhatikan privasi, apalagi jika mereka tidak berkaitan langsung dengan acara dan mungkin tidak bersedia dipublikasikan.

Knowledge Check

Lengkapi hubungan berikut ini:

ETIKA → [ ? ] → [ ? ] → TANGGUNG JAWAB

(Klik pada tanda [ ? ] untuk mengisi)

Dari Etika Menuju Hukum

MEDIA SOSIAL
PERILAKU
ETIKA
Apa yang seharusnya dilakukan?
HUKUM
Apa yang diatur oleh peraturan?

Etika dan hukum sama-sama dapat menjadi pedoman perilaku, tetapi keduanya bukan hal yang sama. Etika berkaitan dengan nilai dan kepatutan dalam berperilaku, sedangkan hukum merupakan aturan yang memiliki dasar dan konsekuensi hukum.

Etika atau Hukum?

Klik tombol di bawah tiap pernyataan untuk melihat pengelompokannya.

A. Menggunakan bahasa yang sopan ketika berbeda pendapat.
→ Etika
B. Membagikan informasi pribadi seseorang secara sembarangan.
→ Dapat berkaitan dengan etika dan hukum, tergantung konteks serta ketentuan yang berlaku.
C. Mengancam seseorang melalui media elektronik.
→ Dapat memiliki konsekuensi hukum.
Satu tindakan dapat memiliki dimensi etika sekaligus hukum.

Apa itu UU ITE?

UU ITE adalah Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang mengatur berbagai aspek aktivitas elektronik, termasuk informasi dan dokumen elektronik serta perbuatan tertentu di ruang digital.

2008
UU ITE Pertama
(UU No. 11/2008)
→
2016
Perubahan Pertama
(UU No. 19/2016)
→
2024
Perubahan Kedua
(UU No. 1/2024)
[ Klik untuk detail ]
Mengapa mahasiswa perlu mengetahui perubahan terbaru?

Karena aktivitas digital berkembang dan ketentuan hukum juga mengalami perubahan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai UU ITE sebaiknya menggunakan regulasi yang berlaku, bukan hanya informasi atau materi lama. UU No. 1 Tahun 2024 ditetapkan dan mulai berlaku pada 2 Januari 2024.

Aktivitas Digital dan Aspek Hukum

UU ITE bukan hanya berkaitan dengan "posting di media sosial". Aktivitas digital memiliki berbagai bentuk dan konteks. (Klik setiap kartu untuk penjelasan)

💬
Komunikasi
Komentar, pesan, percakapan, dan komunikasi elektronik.
📢
Publikasi
Posting, artikel, video, gambar, dan informasi yang dipublikasikan.
🔄
Distribusi
Sharing, repost, forwarding, dan penyebaran informasi.
🔐
Data & Privasi
Informasi pribadi dan data yang berada dalam lingkungan digital.
⚠️
Konten Bermasalah
Konten atau tindakan tertentu yang dapat memiliki konsekuensi hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Kenali Aktivitas yang Memiliki Risiko Hukum

Klik setiap "Red Flag" di bawah ini untuk memahami konteks hukumnya.

🚩 1. Penghinaan atau pencemaran nama baik +
Unggahan yang menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dapat memiliki konsekuensi hukum apabila memenuhi unsur dan ketentuan yang berlaku. (Hindari menyederhanakan bahwa "Menghina di medsos = pasti melanggar UU ITE", karena ada konteks yang harus dipenuhi).
🚩 2. Ancaman +
Tindakan mengirimkan atau menyampaikan ancaman melalui sarana elektronik dapat memiliki konsekuensi hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
🚩 3. Informasi bohong atau menyesatkan +
Persoalannya bukan sekadar "Berita itu benar atau salah?" tetapi perlu melihat jenis informasi, konteks, cara penyebaran, serta ketentuan hukum yang relevan.
🚩 4. Ujaran kebencian +
Konten atau komunikasi yang berkaitan dengan kebencian atau permusuhan terhadap kelompok tertentu dalam konteks yang diatur oleh hukum.
🚩 5. Cyberbullying +
Perundungan di ruang digital tidak hanya merupakan persoalan etika, tetapi dalam kondisi tertentu dapat bersinggungan dengan ketentuan hukum lainnya.

Bedah Kasus

KASUS 01:
Sebuah akun mengunggah pernyataan tentang seseorang dan menuduh orang tersebut melakukan tindakan tertentu. Unggahan tersebut kemudian menjadi viral.

Jangan terburu-buru menilai "melanggar" atau "tidak". Jawablah 4 pertanyaan ini terlebih dahulu:

  1. Apa yang diklaim?
  2. Apakah ada bukti atau sumber?
  3. Siapa yang menjadi sasaran?
  4. Apa konteks penyampaiannya?
Dalam persoalan hukum digital, konteks dan unsur perbuatan perlu diperiksa. Sebuah unggahan tidak dapat dinilai hanya berdasarkan satu kalimat atau sekadar karena kontennya viral.

"Benar Belum Tentu Aman untuk Dibagikan"

A. Informasi benar + sumber jelas + relevan untuk publik.
B. Informasi belum diverifikasi + sumber tidak jelas.
C. Informasi benar tetapi berisi informasi pribadi seseorang.
Apakah ketiga informasi tersebut harus diperlakukan dengan cara yang sama?
TIDAK.
Kebenaran informasi merupakan salah satu aspek, tetapi dalam praktik komunikasi digital kita juga perlu mempertimbangkan konteks, privasi, kepentingan publik, sumber, dan konsekuensi penyebarannya.

UU ITE: Jangan Hanya Hafal Pasal

UU ITE tidak sebaiknya dipelajari sebagai daftar "kata terlarang". Yang penting adalah memahami bahwa konsekuensi hukum bergantung pada perbuatan, unsur, konteks, dan ketentuan yang berlaku.

SEBUAH KONTEN
↓
Apa isinya?
↓
Siapa sasarannya?
↓
Bagaimana konteksnya?
↓
Bagaimana cara disebarkan?
↓
Apa akibat/perbuatannya?
↓
Ketentuan apa yang relevan?
↓
Perlu analisis lebih lanjut

Mini Simulation

Kasus A — Komentar
"Saya tidak setuju dengan kebijakan ini. Menurut saya, kebijakan tersebut perlu dievaluasi karena alasan X dan Y."
Apa yang terlihat dari cara komunikasi tersebut?
→ Kritik terhadap gagasan dengan alasan yang jelas, bukan serangan personal.
Kasus B — Tuduhan
"Orang ini pasti melakukan kejahatan. Sebarkan supaya semua orang tahu!"
Apa yang perlu diperiksa sebelum konten tersebut disebarkan?
Benar. Semua aspek tersebut harus diperiksa sebelum menyebarkan sebuah tuduhan.
Kasus C — Ancaman
"Kalau kamu tidak melakukan apa yang saya minta, saya akan membuat kamu menyesal."
Apakah persoalan ini cukup dilihat sebagai masalah etika?
→ Tidak. Perlu dipertimbangkan pula aspek hukum dan konteks pernyataan tersebut.

Digital Responsibility Check

Sebelum membuat atau menyebarkan konten, centang kotak berikut (Klik untuk mencentang):

✓
Saya memahami isi konten.
✓
Saya mengetahui sumbernya.
✓
Saya tidak mengubah konteks informasi.
✓
Saya mempertimbangkan pihak yang terkait.
✓
Saya memperhatikan privasi.
✓
Saya tidak membuat ancaman atau serangan personal.
✓
Saya memahami bahwa aktivitas digital dapat memiliki konsekuensi hukum.

Dari Pengguna ke Pengelola Media

Sejauh ini kita telah melihat bahwa pengguna media sosial perlu memahami etika dan konsekuensi hukum dari aktivitas digital.

Tetapi bagaimana jika kita bukan hanya pengguna?
Bagaimana jika kita menjadi pengelola akun resmi kampus, fakultas, program studi, atau organisasi pendidikan?

Apakah standar kita akan berbeda?

Ketika Media Sosial Membawa Nama Institusi

Satu akun, satu unggahan, dapat mewakili sebuah institusi.

Ketika seseorang mengelola akun resmi perguruan tinggi, fakultas, program studi, atau organisasi kampus, konten yang dibuat tidak lagi sekadar merepresentasikan pribadi. Konten tersebut dapat membentuk persepsi publik terhadap institusi.

PEMBUAT KONTEN
↓
KONTEN
↓
MEDIA SOSIAL
↓
PUBLIK
↓
PERSEPSI INSTITUSI
Klik kata kunci di atas untuk melihat penjelasannya.

Apa yang Dimaksud Promosi Pendidikan Tinggi?

Promosi perguruan tinggi bukan sekadar "iklan kampus" atau mengajak calon mahasiswa untuk mendaftar. Promosi juga berfungsi untuk memperkenalkan program studi, menyampaikan keunggulan institusi, hingga memperkuat identitas institusi.

Perhatikan perbedaan pendekatannya:

INFORMASI (Netral)
“Program Studi X memiliki laboratorium dengan fasilitas A, B, dan C.”
PROMOSI (Persuasif & Etis)
“Kenali pengalaman belajar di Program Studi X melalui fasilitas laboratorium yang mendukung kegiatan praktikum mahasiswa.”
PROMOSI TIDAK ETIS (Manipulatif)
“Laboratorium terbaik dan tercanggih di Indonesia! Dijamin kamu akan menjadi ahli setelah kuliah di sini!”
Promosi tidak berarti bebas membuat klaim apa pun agar terlihat menarik. Ada batasan etika yang harus dijaga.

6 Prinsip Utama Etika Promosi Pendidikan Tinggi

Klik setiap prinsip di bawah ini untuk melihat contoh penerapannya.

01
Akurat
Informasi yang disampaikan harus sesuai dengan fakta dan kondisi yang sebenarnya.
❌ "100% lulusan kami langsung bekerja." (Jika tidak ada data pendukung)

✅ "Berdasarkan tracer study tahun 2025, sebanyak 85% lulusan tercatat bekerja..."
02
Transparan
Informasi penting tidak sengaja disembunyikan untuk menciptakan persepsi keliru.
Jangan hanya menunjukkan sisi yang menarik (seperti beasiswa atau fasilitas), tetapi sembunyikan syarat, biaya, atau status akreditasi sebenarnya. Berikan informasi utuh bagi calon mahasiswa.
03
Dapat Diverifikasi
Setiap klaim penting sebaiknya memiliki dasar atau rujukan yang jelas.
Jika klaim: "Lulusan kami bekerja di berbagai perusahaan nasional."
Harus didukung sumber yang jelas: laporan resmi, dokumen akreditasi, data statistik, atau data institusi.
04
Tidak Berlebihan
Hindari klaim absolut yang tidak terukur dan memanipulasi harapan.
Hindari kata-kata: "Terbaik", "Nomor satu", "Pasti sukses", "Pasti langsung kerja". Jika menggunakan klaim komparatif, harus memiliki dasar dan konteks yang jelas (misalnya berdasar ranking resmi).
05
Menghormati Audiens
Calon mahasiswa bukan sekadar "target". Jangan memanipulasi atau mengeksploitasi kecemasan.
❌ "Kalau kamu tidak kuliah di sini, masa depanmu akan tertinggal!"

✅ "Temukan program pendidikan yang sesuai dengan minat dan tujuan kariermu bersama kami."
06
Menjaga Kredibilitas
Konten harus memperkuat, bukan merusak kepercayaan publik terhadap institusi.
Bukan berarti semua konten harus kaku dan formal. Konten bisa kreatif, humoris, ringan, atau mengikuti tren, tetapi tetap harus sesuai dengan identitas dan nilai institusi.

Promosi Menarik vs Promosi Menyesatkan

Promosi Informatif & Etis Promosi Berisiko & Menyesatkan
Berdasarkan dataBerdasarkan klaim sepihak
Menjelaskan faktaMembesar-besarkan (hiperbola)
Sumber jelasSumber tidak jelas
Bahasa persuasif wajarBahasa manipulatif / menekan
Keunggulan dapat dibuktikanKeunggulan absolut tidak terukur
Informasi relevan tersaji utuhInformasi penting sengaja disembunyikan
Persuasif ≠ Manipulatif

Promosi memang bertujuan menarik perhatian. Namun, komunikasi persuasif tetap harus dibangun melalui informasi yang benar, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bedah Konten Promosi

Perhatikan contoh konten promosi (caption) di bawah ini. Klik pada kata/kalimat yang digarisbawahi merah untuk melihat mengapa frasa tersebut bermasalah.

🎓 KULIAH DI KAMPUS X!
🏆 Kampus TERBAIK nomor 1 di Indonesia!
💼 Dijamin 100% lulus langsung kerja!
🌟 Fasilitas TERLENGKAP dan TERCANGGIH!
🚀 Jangan sampai salah pilih! Masa depanmu dimulai dari sini!
DAFTAR SEKARANG!

Rewrite Challenge

Versi Awal (Bermasalah):

“Kampus terbaik nomor 1! Dijamin langsung kerja setelah lulus!”

TUGAS:

Ubah kalimat tersebut menjadi kalimat promosi yang:
✓ menarik   ✓ informatif   ✓ faktual   ✓ tidak berlebihan

Etika Visual Promosi

Etika promosi tidak hanya tentang teks (caption), tetapi juga tentang apa yang disajikan secara visual (gambar/video).

📸 Foto
  • Apakah foto sesuai konteks aslinya?
  • Apakah orang yang ditampilkan diperlakukan secara wajar?
  • Apakah foto dimanipulasi secara menyesatkan?
🎥 Video
  • Apakah potongan video mengubah konteks pembicaraan?
  • Apakah narasi visual sesuai dengan fakta?
  • Apakah penggunaan musik/aset menghargai hak cipta?
🎨 Desain
  • Apakah informasi krusial mudah dibaca?
  • Apakah desain sengaja menyembunyikan disclaimer?
  • Apakah grafik/angka disajikan secara proporsional?
🧑‍🎓 Representasi
  • Apakah mahasiswa/dosen ditampilkan bermartabat?
  • Apakah representasi mencerminkan kondisi sebenarnya?
  • Apakah ada dasar hukum/izin penggunaan wajah (consent)?

Content Ethics Check

Sebelum klik "POST", simulasikan peninjauan konten promosi Anda. Centang kotak jika syarat telah terpenuhi.

✓
FAKTA: Apakah informasi sudah diverifikasi?
✓
KLAIM: Apakah klaim dapat dibuktikan?
✓
BAHASA: Apakah bahasa persuasif tetapi tidak manipulatif?
✓
VISUAL: Apakah foto/video sesuai konteks?
✓
PRIVASI: Apakah penggunaan data/foto pihak lain sudah diperhatikan?
✓
SUMBER: Apakah sumber atau dasar informasi jelas?
✓
INSTITUSI: Apakah konten memperkuat kredibilitas institusi?
Ethical Content Check
0 / 7
Perlu diperbaiki sebelum dipublikasikan.

*Catatan: Checklist ini digunakan untuk mengevaluasi kelayakan publikasi ("siap ditinjau"), namun tidak menjamin bahwa sebuah konten kebal secara mutlak dari hukum.

Mini Case: Viral atau Kredibel?

KONTEN A
🔥 KAMPUS KITA PALING KEREN!!!
Semua lulusan pasti sukses!
Daftar sekarang!!!
KONTEN B
🎓 Apa yang dapat kamu pelajari di Program Studi X?
✓ Kurikulum modern
✓ Lab fasilitas lengkap
Informasi PMB: [Link Website]

Apa perbedaan pendekatan komunikasi kedua konten tersebut?

Keduanya memiliki gaya berbeda. Konten A sangat mengandalkan emosi dan klaim absolut (Viral), sedangkan Konten B fokus pada informasi faktual (Kredibel). Dalam promosi pendidikan, daya tarik komunikasi perlu berjalan bersama akurasi, transparansi, dan kredibilitas informasi.

Bayangkan Kamu Adalah Social Media Officer

Besok pagi kamu menerima instruksi dari pimpinan kampus:
“Buatkan postingan yang membuat calon mahasiswa sebanyak mungkin tertarik mendaftar!”

Kamu dihadapkan pada dua pilihan dorongan:

MENJADI VIRAL vs MEMBANGUN KEPERCAYAAN

Apakah keduanya harus selalu dipertentangkan?

(Simpan pemikiran ini untuk aktivitas selanjutnya)

Tugas Pertemuan 3

Audience & Platform Mapping

Gunakan pemahaman dari materi Segmentasi Audiens, Perilaku Gen Z, dan Karakteristik Platform untuk menyusun strategi yang tepat sasaran.

Bagaimana cara mengerjakannya? Klik setiap tahapan di bawah ini untuk melihat detail instruksi.

1. Pahami Siapa Audiensmu (Segmentasi & Perilaku) +

Target utama promosi pendidikan tinggi saat ini adalah Siswa SMA/SMK (Generasi Z akhir / Gen Alpha awal).

Tugas pertama Anda adalah membedah karakteristik mereka berdasarkan materi yang telah dipelajari:

  • Apa yang mereka cari? (Apakah informasi beasiswa, kehidupan kampus yang seru, atau jaminan karier?)
  • Bagaimana perilaku digital mereka? (Menyukai video pendek yang otentik, mudah bosan dengan konten kaku, rentan terhadap FOMO, butuh interaksi cepat).
  • Apa pain points mereka? (Kecemasan salah pilih jurusan, takut biaya mahal, dsb).
Output Tahap 1: Buat 1 slide yang merangkum Profil / Persona Calon Mahasiswa.
2. Petakan Peran Platform (Platform Mapping) +

Setiap platform memiliki algoritma, format, dan bahasa (kultur) yang berbeda. Jangan memposting konten yang persis sama di ketiga platform ini.

Tentukan tujuan spesifik (peran) dari masing-masing platform untuk audiens SMA/SMK:

📸 Instagram Visual yang estetis, informasi resmi, dan Stories untuk interaksi harian (tanya jawab PMB, poling).
🎵 TikTok Konten dinamis, tren (sound viral), Point of View (POV) mahasiswa nyata, behind the scene, hiburan yang otentik.
▶️ YouTube Konten durasi panjang. Campus tour virtual, podcast dengan alumni sukses, atau vlog mahasiswa.
3. Susun Ide Konten (Eksekusi) +

Berdasarkan pemetaan audiens dan platform di atas, buatlah contoh ide konten nyata.

  • Beri contoh 1 ide konten untuk Instagram (Misal: Carousel "5 Hal yang Wajib Disiapkan Sebelum Daftar Jalur Mandiri").
  • Beri contoh 1 ide konten untuk TikTok (Misal: Video POV "Seharian jadi mahasiswa Teknik: Ekspektasi vs Realita").
  • Beri contoh 1 ide konten untuk YouTube (Misal: Video "Room Tour Asrama Kampus").

Pastikan ide tersebut tetap memenuhi prinsip Etika Promosi (Akurat, Tidak Berlebihan, Menjaga Kredibilitas).